Ard alias Engkol (28), warga Jalan SM Raja Kelurahan Kisaran Barat Kecamatan Kota Kisaran Barat nyaris tewas, Sabtu (12/7) sekitar pukul 05.00 Wib. Dia dipukuli dan hendak dibakar hidup-hidup, karena tepergok mencuri satu unit komputer.
Rudi Atmaja (57), warga Jalan SM Raja Gang Mengkudu Kisaran pemilik rumah yang dimasuki Engkol kepada wartawan menceritakan, pagi itu sehabis sahur dan menunggu waktuk Imsak, dia membuka komputer.
Karena sesak buang air kecil, dia pergi ke kamar mandi meninggalkan kompter yang sudah hidup. Tidak lama di kamar mandi, dia kembali hendak mengoperasikan komputer. Tetapi dia sudah tidak menemukan komputer miliknya.
“Aku tanya sama istriku kemana komputer, tapi mengaku tidak tahu. Padahal, aku cuma sebentar di kamar mandi,” aku Rudi.
Karena istrinya tidak mengetahui komputer itu hilang, Rudi memilih langsung keluar dari rumah melihat situasi dan menanyakan kepada tetangganya yang lain.
“Dari pengakuan tetanggaku, diketahui Engkol baru saja keluar rumahku menenteng komputer,” sebut Rudi.
Rudi mengungkapkan, mendengar pengakuan tetangganya, dia bersama warga lain langsung mengejar Engkol namun berhasil kabur. Warga pun sempat kehilangan jejak, dan memutuskan mendatangi rumah Engkol.
Saat ditemui di rumahnya, Engkol sempat mengelak dan membantah mencuri komputer milik Rudi.
“Engkol sempat mengelak dan berdebat dengan warga. Tapi kami langsung masuk ke dalam rumah dan menemukan komputer di lemari pakaiannya,” ujar Rudi.
Rudi menuturkan, setelah menemukan komputer miliknya, dia dan warga lain mencari Engkol yang langsung tidak kelihatan saat warga masuk menggeledah rumah.
Tapi saat warga mencari-cari di dalam rumah, tiba-tiba terdengar dentuman keras seperti benda yang jatuh dari asbes rumah.
“Ternyata Engkol berusaha lari dari kamar mandi dan bersembunyi di atas asbes. Tapi dia jatuh ke dalam rumah,” katanya.
Rudi mengaku, warga yang melihat Engkol tanpa dikomando dan sudah tersulut emosinya langsung bertindak memukuli Engkol.
“Beruntung Kepala Lingkungan (Kepling) cepat datang, dan mengamankan Si Engkol. Kalau tidak warga sudah menghabisinya bahkan mau dibakar hidup-hidup. Itu dilakukan karena warga sudah sering kehilangan dan pencurinya dicurigai Si Engkol itu,” ucap Rudi.
Kasat Reskrim Polres Asahan AKP Dian Indra Prabudi saat ditemui, mengaku pihaknya ada menahan tersangka pencuri yang diserahkan warga karena tepergok mencuri satu unit komputer dari rumah Rudi Atmaja.
"Sempat dihakimi warga lantaran sudah terbakar emosi, baru kemudian diserahkan kepada kami. Diduga masih banyak rumah warga yang sudah dimasuki tersangka,” kata AKP Dian.
Terpisah, Engkol saat ditanyai mengaku dirinyalah yang mencuri komputer milik Rudi. “Betul Bang, aku yang mencuri komputer itu. Rencananya, uang hasil curian itu akan kugunakan untuk modal kawin,” akunya sambil meringis kesakitan karena dipukuli warga.
Engkol juga mengaku, sebelum mencuri komputer, dia sempat makan durian yang disimpan di dapur rumah korban.
“Aku sudah masuk dari dapur, melihat ada durian aku memakannya karena lapar. Setelah itu aku keluar dan masuk lagi, begitu aku melihat ada komputer aku langsung ambil, tapi begitu keluar rumah ada orang melihatku,” katanya.
Ditanya sudah berapa kali mencuri, Engkol mengaku sudah tidak ingat berapa kali beraksi.
sumber:
jpnn.com
Monday, September 1, 2014
Saturday, August 2, 2014
Dangdutan Berbuah Petaka
Hiburan organ tunggal yang diselenggarakan di sebuah desa di Kecamatan Wanareja, berakhir tragis.
Seorang pemuda asal Dusun limbangan Rt 01 Rw 06 Desa Limbangan, Kecamatan Wanareja tewas setelah mendapat sejumlah luka tusukan di tubuh dan wajahnya.
Korban Uut Afandi (20) menerima luka tusuk pisau belati di bagian leher. Selain itu, luka tusuk juga dialami Uut pada pipi kiri dan bahu kiri. Pada mulut dan hidung korban juga mengalami pendarahan. Peristiwa tragis tersebut terjadi sekitar pukul 00.15 Jumat (1/8) dini hari,
Sumber Radar Banyumas (Grup JPNN) menyebutkan, peristiwa bermula ketika korban mendatangi lokasi tempat hiburan organ tunggal diadakan di Rt 05 Rw 06 Desa Limbangan Wanareja, sekitar pukul 23.00 WIB, Kamis (31/7) malam.
Selanjutnya, korban bersama masyarakat lainnya berbaur dalam acara tersebut.
Tiba-tiba, muncul keributan antara korban dengan seorang pria. Tak lama berselang, korban sudah tergeletak dengan tiga luka tusuk.
Warga yang berada di lokasi kejadian, langsug menolong korban dan membawanya ke Rumah Sakit Umum Majenang. Namun naas, saat dalam perjalanan, nyawa korban sudah tidak dapat tertolong lagi. Polisi yang menerima laporan, langsung mendatangi lokasi kejadian dan melakukan olah TKP. Polisi juga memeriksa sejumlah saksi untuk dimintai keterangan atas kejadian itu.
Kasat Reskrim Polres Cilacap AKP Malik Fahrin Husnul Aqif menyampaikan, dugaan sementara, korban berselisih dengan pelaku yang masih dalam pengejaran. "Pelaku sudah kita ketahui identitasnya. Saat ini masih kita kejar," tandasnya.
Kepala Desa Limbangan, Harsono mengatakan, korban sebelumnya tengah duduk di dekatnya dan sama-sama menikmati pertunjukan yang tengah memainkan lagu terakhir.
Selang beberapa saat kemudian, dia mendengar keributan dan korban sudah tidak ada di tempat duduknya. Belakangan baru diketahui kalau Uut menjadi korban penusukan hingga mengalami luka parah, tepat di bagian lehernya.
"Setelah itu, ada suara keributan di luar arena panggung. Jaraknya sekitar 50 meter dari yang punya hajat," katanya.
Pascapenusukan, kondisi korban sudah nampak kritis hingga dilarikan ke RSUD Majenang oleh sejumlah warga dengan menggunakan sepeda motor. Namun, nyawanya tidak tertolong lagi hingga korban menghembuskan nafas terakhir. Diperkirakan korban sudah meninggal saat masih dalam perjalanan.
Harsono mengaku tidak mengetahui motif penusukan tersebut. Pasalnya, selama ini Uut terkenal pemuda baik-baik dan tengah menimba ilmu di salah satu perguruan tinggi di Bandung. Tiap kali di pulang, korban juga tidak pernah berbuat ulah atau terlibat keonaran di tengah masyarakat.
sumber:
jpnn.com
Seorang pemuda asal Dusun limbangan Rt 01 Rw 06 Desa Limbangan, Kecamatan Wanareja tewas setelah mendapat sejumlah luka tusukan di tubuh dan wajahnya.
Korban Uut Afandi (20) menerima luka tusuk pisau belati di bagian leher. Selain itu, luka tusuk juga dialami Uut pada pipi kiri dan bahu kiri. Pada mulut dan hidung korban juga mengalami pendarahan. Peristiwa tragis tersebut terjadi sekitar pukul 00.15 Jumat (1/8) dini hari,
Sumber Radar Banyumas (Grup JPNN) menyebutkan, peristiwa bermula ketika korban mendatangi lokasi tempat hiburan organ tunggal diadakan di Rt 05 Rw 06 Desa Limbangan Wanareja, sekitar pukul 23.00 WIB, Kamis (31/7) malam.
Selanjutnya, korban bersama masyarakat lainnya berbaur dalam acara tersebut.
Tiba-tiba, muncul keributan antara korban dengan seorang pria. Tak lama berselang, korban sudah tergeletak dengan tiga luka tusuk.
Warga yang berada di lokasi kejadian, langsug menolong korban dan membawanya ke Rumah Sakit Umum Majenang. Namun naas, saat dalam perjalanan, nyawa korban sudah tidak dapat tertolong lagi. Polisi yang menerima laporan, langsung mendatangi lokasi kejadian dan melakukan olah TKP. Polisi juga memeriksa sejumlah saksi untuk dimintai keterangan atas kejadian itu.
Kasat Reskrim Polres Cilacap AKP Malik Fahrin Husnul Aqif menyampaikan, dugaan sementara, korban berselisih dengan pelaku yang masih dalam pengejaran. "Pelaku sudah kita ketahui identitasnya. Saat ini masih kita kejar," tandasnya.
Kepala Desa Limbangan, Harsono mengatakan, korban sebelumnya tengah duduk di dekatnya dan sama-sama menikmati pertunjukan yang tengah memainkan lagu terakhir.
Selang beberapa saat kemudian, dia mendengar keributan dan korban sudah tidak ada di tempat duduknya. Belakangan baru diketahui kalau Uut menjadi korban penusukan hingga mengalami luka parah, tepat di bagian lehernya.
"Setelah itu, ada suara keributan di luar arena panggung. Jaraknya sekitar 50 meter dari yang punya hajat," katanya.
Pascapenusukan, kondisi korban sudah nampak kritis hingga dilarikan ke RSUD Majenang oleh sejumlah warga dengan menggunakan sepeda motor. Namun, nyawanya tidak tertolong lagi hingga korban menghembuskan nafas terakhir. Diperkirakan korban sudah meninggal saat masih dalam perjalanan.
Harsono mengaku tidak mengetahui motif penusukan tersebut. Pasalnya, selama ini Uut terkenal pemuda baik-baik dan tengah menimba ilmu di salah satu perguruan tinggi di Bandung. Tiap kali di pulang, korban juga tidak pernah berbuat ulah atau terlibat keonaran di tengah masyarakat.
sumber:
jpnn.com
Subscribe to:
Posts (Atom)
